Cantik

Jumat, 23 April 2010

Lelaki Ahli Surga


Khusyu’ dalam Sholatnya
Menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna
Menjaga Farajnya (Kemaluan), Kecuali pada istrinya
Ahli Shaum dan selalu menunaikan zakat
Senantiasa menundukkan pandangannya
Bersih Aqidahnya dan Sehat Rohaninya
Benar dalam Ibadah
Jiwanya senantiasa bersungguh-sungguh
Mampu berusaha mencari nafkah
Bermanfaat bagi orang lain
Senantiasa siap menolong
Selalu yakin dalam tindakannya
Berpikir positif dan selalu membangun
Rendah Hati
Selalu Menghindari perkara-perkara yang samar-samar (Syubhat)
Pemaaf dan lapang dada
Bersikap keras dan tegas terhadap kekafiran
Efisien dalam memanfaatkan waktu
Istiqomah dalam Kebenaran

KERIDHAAN ORANGTUA



Orangtua menurut ajaran islam, adalah manusia-manusia pertama yang harus diakrabi dan dimuliakan oleh seorang muslim. Sebab dengan perantaraan merekalah Allah menghadirkan manusia ke muka bumi. Oleh karena itu, di dalam semua kitab suci, perintah berbakti kepada orangtua tidak pernah berbeda dalam satu kesimpulan : mengabdi kepada mereka adalah mulia, durhaka kepada mereka adalah hina.

Begitu pula Al-Qur'an. Orangtua seolah ditempatkan kedudukannya setingkat di bawah Tuhan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Keridhaan Allah terdapat dalam keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orangtua."

Sehingga dalam Al-Quran ada tiga pasangan perintah yang tidak pernah terpisah di dalam ayat yang memuatnya. Yakni di samping perintah beriman selalu berdampingan dengan beramal salih, perintah mendirikan shalat berjejeran dengan perintah membayarkan zakat, juga perintah berbakti kepada Allah senantiasa disertai perintah mengabdi kepada orangtua.

Bahkan oleh Al-Quran banyak digambarkan bagaimana seharusnya sikap anak menghadapi orangtuanya berhubung sangat beratnya kesulitan yang dialami pada waktu mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan hingga mendidik dan mendewasakan.

Dalam surat Luqman ayat 14 dikatakan:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."

Tatkala Nabi SAW, sedang berkumpul dengan para sahabat, datanglah seseorang memanggil beliau untuk menjenguk sahabat Abdullah bin Salam yang sedang sakit payah dan nampaknya hampir sampai ajalnya.

Bersama dengan para sahabat, Nabi lalu datang kepada Abdullah. Di rumahnya Abdullah sudah mulai tercekik-cekik menjelang tarikan nafas yang penghabisan. Nabi mengajarinya dengan mengucapkan kalimah syahadat. Namun hingga tiga kali, Abdullah seperti mendadak bisu.

Nabi lantas bersabda kepda Bilal, "Sahabatku, tanyakan kepada istri Abdullah, apa yang dilakukannya dalam waktu sehatnya, dan apa saja usahanya."

Kepada Bilal istri Abdullah menjawab, "Sepanjang dia menikahi saya, tidak pernah saya lihat sehari pun ia tidak bersedekah dengan apa yang ia punya. Hanya saja ibunya tidak ridha kepadanya."

Maka Nabi segera memerintahkan Bilal untuk mendatangi ibu Abdullah bin Salam di kampungnya.

Berkatalah Bilal, "Ibu, maukah ibu mengabulkan permintaan Rasulullah?"

"Apakah permintaan beliau?" tanya perempuan tua itu.

"Supaya ibu berbaik-baik dengan anak ibu, Abdullah. Sebab ia sedang berada pada sakaratul maut."

"Oh, tidak. Demi hak Rasullah atas diriku, tak kuhalalkan kesalahan Abdullah kepadaku. Di dunia maupun di akhirat. Lantaran dia telah menyakiti aku, sakit sekali."

dengan sedih Bilal melaporkan hal itu kepada Nabi SAW. Beliau pun segera menyuruh Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mengulangi permintaannya.

"Ibu diundang untuk bertemu Rasullah," Ujar mereka sudah bertemu muka dengan ibu Abdullah di kampung.

"Ada urusan apa?" tanya perempuan tersebut keheranan.
"Soal itu boleh ditanyakan langsung kepada beliau."
Maka setelah berhadap-hadapan, Rasullah berkata:

"Wahai ibu. Perhatikanlah anak ibu, betapa beratnya ia tersiksa saat ini."

Sesudah memandangi anaknya sejenak, wanita tua itu berkata:

"Hai, anakku. Atas nama hakku yang kau rampas. Tak kuhalalkan kesalahanmu di dunia maupun di akhirat."

Nabi terkejut:

"Hai ibu. Takutlah kepada Allah Azza wa jalla. Dan halalkanlah kesalahannya."

Ibu tersebut menjawab, "Apakah sehubungan dengan hakmu sebagai Rasul atas diriku sehingga aku harus mengikhlaskan dosanya, padahal ia menyakiti aku, bahkan mengusirku dari rumahnya demi kepentingan istrinya?"

Rasulullah menjawab:

"Tidak. Kebalikkannya. Bahkan merupakan hakmu atas diriku jika ibu berkenan mengampuni dosanya."

Tersadar oleh dalamnya makna yang terkandung dalamucapan Rasulullah itu, perempuan tersebut menggumam:

"Saksikanlah, hai Rasulullah. Oleh engkau dan oleh orang-orang bersamamu. Bahwa aku mengampuni kesalahan Abdullah saat ini juga."

Nabi pun dengan gembira menyambut jawaban ini, lantas bersabda kepada Abdullah yang bibirnya kian terkatup rapat tadinya.

"Ucapkan : Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah."
Serentak talkin tersebut disahuti Abdullah dengan mengucapkan syahadat keras-keras sebelum ia kemudian menutup mata buat tidak dibuka lagi selama-lamanya.

Dalam suratAl-Isra ayat 23 Allah menegaskan:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Malahan, terhadap orangtua yang masih kafir pun seorang muslim tidak dibenarkan bersikap kasar, dan justru harus memuliakan mereka di dalam pergaulan dunia. Meskipun mereka dengan keras berusaha menjadikan si anak kembali kafir dan mengikuti agama mereka.

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." [Luqman : 15]

Kepada "Pintu sUrgaku"


Ummi...
Kini, karena aku menuntut ilmu di Kota Pahlawan
Terpaksalah aku harus rela berjauhan dengan Ummi

Ummi tercinta, maafkan aku...
telah banyak tindakan dan kata-kataku yang melukai perasaan Ummi
Ummi yang baik, maafkan aku ...
bila tak ada waktu lagi untuk belajar tafsir bersama Ummi,
mendengar keluh kesah Ummi saat memasak di dapur,
atau membantu Ummi mengambil air dari sumur

Ummi, ada bening menemaniku
saat teringat Ummi tertatih membaca Al Quran di dalam kamar
atau saat kupalingkan pandangan pada sosok berbalut mukena di salam penghujung sholat jamaah kita
atau saat melihatmu mengenakan busana muslim lengkap yang belum tentu dapat kulihat setiap hari

Bukannya aku cengeng Ummi...
tapi biarlah sesekali bening air mata ini
membasahai keringnya kerinduan dalam jiwa

Ummi, seiring dengan doa restumu
hanya secumbu kecupan di kening dan tanganmu saat aku meninggalkanmu
menuntut ilmu di Kota Pahlawan ini
saat kulihat sosok keteguhanmu di balik pandangan mata yang berkaca-kaca karena perpisahan

Yakinlah Ummi, perpisahan ini hanyalah sementara
dan hanya akan menambah manis dan wanginya kerinduan dalam jiwa

Ummi, keridhaanmu menjadi peneguh dalam perantauan ini
keikhlasanmu menguatkan kesabaran dalam perjuangan ini
dan untaian doa dalam isak tangismu menjadi penyejuk hati
di tengah samudera kehidupan yang keras ini

Ummi, kudambakan Ummi ada pada setiap titik pencapaian angan tertinggiku
seperti ketika dapat kulihat Ummi dengan bahagia memeluk dan mencium kening sosok bidadari yang kan kumintakan pada Ummi doa restu tuk meminangnya nanti
yang kusadari tak semudah itu menemukan bidadari itu, yang tiap malam selalu kupintakan pada akhir doa dan istikharahku
seperti ketika dapat kulihat Ummi dengan bahagia menimang dan menyentuh hidung mungil cucu Ummi setelah keluar dari ruang persalinan
yang kusadari aku kan segera belajar dari Ummi bagaimana aku harus mendidik, menjaga dan merawatnya sebagaimana Ummi mendidikku, menjagaku dan merawatku saat aku masih kecil dulu
dan seperti ketika dapat kulihat Ummi dalam balutan pakaian ihram saat memberangkatkan Ummi menunaikan rukun ISLAM yang kelima
yang kusadari...

Ummi, percayalah, takkan kubiarkan hari tuamu menyendiri di panti jompo
aku tahu Ummi... itu adalah kedurhakaan yang amat besar
Engkau adalah pintu surgaku di dunia ini
karena itu ALLAH melebihkanmu dalam birrul walidain daripada laki-laki

Ummi... memang jasamu tiada terbatas
walau kusucikan dirimu dengan banjiran keringat dan air mata

Ummi, jagalah ALLAH niscaya ALLAH akan senantiasa menjagamu.

Bu,doaku Selalu untukmu..........................


Malam itu kebetulan kami hanya berdua di kamarku di kampung halaman sana. Kebetulan aku sedang mudik karena ada tasyakuran pernikahan saudara.

"De'...", ibu mulai membuka percakapan, menghentikan kegiatanku menata kamarku yang lama ditinggalkan penghuninya dalam perantauan ini.
"Iya bu?"
"Kamu adalah salah satu harapan Ibu, sungguh ibu berharap padamu..." kata Ibu dengan nada sedih. Matanya yang semula berkaca-kaca kini nampak mulai ada bulir-bulir bening yang menetes.

---
"Ya Allah, jangan buat dia bersedih, aku paling tak tega melihat ibu menangis."
---

Setiap aku mudik, aku selalu meluangkan waktu untuk bermanja dengan ibu. Berduaan, saling curhat dan saling berbagi rasa suka dan duka. Momen-momen seperti inilah yang selalu kurindu saat aku berada nan jauh disini, di tengah perantauanku menuntut ilmu.

Seperti malam itu, ketika tamu-tamu sudah banyak yang pulang. Yang tersisa hanya badan yang rasa capeknya bukan main karena seharian ini bahkan sejak beberapa hari sebelumnya sibuk menyiapkan segala macam belanjaan dan urusan untuk acara tasyakuran. Kami berdua sambil tidur-tiduran di atas tempat tidur yang baru saja selesai kurapikan, mulai saling curhat. Lebih banyak ibu yang curhat dan aku sebagai pendengar setia.

---
"Bu, mungkin anakmu ini tak sesempurna yang ibu bayangkan. Tapi aku selalu berusaha menjadi anak yang berbakti, yang senantiasa mendoakan ayah dan ibu setiap hari."
---

"Tahu kan de', bahwa setelah orang tua meninggal nanti, hanya doa dari anak-anak shaleh/shalehah lah yang akan mampu menjadi penolong bagi orang tua mereka..." lanjut ibu mengulang nasehat yang selalu diulang-ulang baik melalui sms, telepon maupun di saat-saat seperti ini.

"Iya bu.." aku mengangguk perlahan. Meskipun mungkin telah beratus kali atau bahkan ribuan kali aku mendengarnya namun aku tak pernah merasa bosan sedikitpun dengan nasehat ibu.
"Ibu nggak pernah berharap balasan apa-apa dari kalian, ibu hanya ingin didoakan..itu saja..." lanjut ibu.

See guys... that simple thing! permintaan sesederhana itu apakah kamu masih berat juga untuk memenuhinya.. bisik suara batinku. Tidaklah sebanding dengan apa yang telah Ibu berikan untukmu selama ini. Bukankah pengorbanan beliau jauh.. sudah jauh lebih berat dari itu sejak dari mengandungmu, membiaya sekolahmu, mengasuhmu dan bahkan menjadi tempat curahan hatimu ketika kamu sudah berumah tangga sendiri... lanjut suara batin itu terus menggema dalam relung hatiku.

"Insya Allah bu.. ade' akan selalu mendoakan ayah dan ibu, ingatkanlah selalu ade' ya bu bila suatu saat nanti ade' terlupa.." jawabku menenangkan ibu. Tampak mengembang segurat senyum di bibir ibu. Ibu perlahan beringsut bangkit dan aku memeluknya dalam haru.

---
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Isra’ : 24)

Sungguh bu, aku berjanji takkan pernah melupakan satu-satunya permintaanmu ini. Ya Allah, ingatkan aku bila suatu saat nanti aku terlupa..

Bidadari Surga Mencemburui Akhlaq nya.........


Ukhti yang baik,

Kecantikan adalah anugerah. Senyum manis adalah berkah. Sungguh karunia dari Allah bahwa wanita diciptakan memiliki kecantikan yang sangat mempesona. Dan kecantikan itulah yang akan menjadi jalannya menuju surga, jika ia mampu membarenginya dengan akhlaq yang mulia.

Rasulullah menjelaskan bahwa di antara fitrah lelaki adalah menyukai kecantikan wanita. Bahkan ‘Aisyah yang merupakan salah seorang shahabiyah paling pandai di masa itu, terkenal pula karena kecantikannya. Rasulullah menjulukinya Humaira`: Gadis yang pipinya merona merah.

Dan karena kecantikannya itu, wanita dapat mengumpulkan pahala yang sebesar-besarnya dari Allah. Caranya? Bersyukurlah atas nikmat yang Allah berikan itu dan pandailah menjaga diri. Rasulullah mengajarkan cara bersyukur itu dengan membiasakan diri membaca do’a tatkala bercermin yang maknanya,


“Ya Allah… Sebagaimana Engkau telah mengelokkan parasku, elokkan pulalah akhlaqku…”


Ukhti yang dijaga oleh Allah…

Tak ada yang salah dengan kecantikan, karena, seperti kata pepatah, kecantikan bukanlah suatu dosa. Tapi sungguh itu tak berarti bahwa setiap wajah yang cantik berhak dijadikan barang tontonan. Kami kaum pria sangat bersedih karena sekarang ini banyak di antara kawan-kawan Ukhti yang gemar memajang wajah cantik mereka di profil Facebook. Juga di blog-blog yang katanya pribadi, tapi nyatanya dapat diakses oleh siapapun.

Ini adalah satu hal yang sangat marak belakangan ini. Satu hal yang dianggap lumrah, sehingga para gadis berjilbab itu memasang pose-pose mereka di foto-foto yang kian hari kian bertambah jumlahnya. Seakan nama saja sudah tidak cukup.

Mohon Ukhti tanyakan pada mereka, apa sesungguhnya tujuan mereka memajang foto tersebut di tempat-tempat publik? Yakni foto dengan gaya yang menggoda serta senyum yang memikat!

Jika tujuan berjilbab itu adalah agar menutupi aurat dan terhindar dari pandangan-pandangan jahat, apakah itu pula yang menjadi tujuan mereka saat bergaya di depan kamera dan memamerkannya pada setiap orang?

Jika berjilbab itu tujuannya adalah mencari ridho Allah, apakah tujuan memperlihatkan foto-foto itupun adalah ridho Allah? Apakah betul Allah akan ridho pada wanita yang melakukan hal itu?

Ukhti yang baik,

Kami kaum pria sangat bersedih menghadapi fenomena ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara gadis-gadis yang fotonya tersebar di seantero jagad ini adalah istri atau calon istri kami. Apakah mereka tidak tahu bahwa foto mereka tersimpan dalam komputer puluhan, ratusan atau bahkan mungkin jutaan pria lain yang tidak berhak? Yang mungkin saja dijadikan sarana oleh para pendosa sebagai ajang bermaksiat? Apakah mereka mengijinkan pria-pria selain suami mereka itu menyimpan foto-foto tersebut?

Ukhti,

Kami kaum pria sangat bersedih mendapati semua ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara foto yang tersebar luas itu adalah ibu atau calon ibu kami, yang seharusnya menunjukkan caranya menjaga diri, bukan dengan menunjukkan hal-hal yang seharusnya disembunyikan…

Kami kaum pria sangat bersedih menyaksikan semua ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara foto yang tersebar luas itu adalah guru atau calon guru kami, yang seharusnya mendidik dan mengajarkan Al Qur’an serta akhlaqul karimah kepada kami.

Apakah semua ini akan dibiarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian? Tanpa ada seorangpun yang berani menegur serta mengingatkannya, memberitahukan bahwa itu adalah sebuah kesalahan? Atau harus menunggu tangan-tangan jahat memanfaatkannya untuk merusak harga diri dan menyebarkan aib yang seharusnya ditutup rapat-rapat?

Ukhti yang baik…

Jazakillah khoiran… Terima kasih banyak karena Ukhti tetap pandai menjaga diri dari sekecil apapun celah-celah kealpaan. Tapi tolong sampaikan pula pada kawan-kawan Ukhti, agar merekapun mengikuti jejak ukhti dengan menghapus foto-foto mereka dari Facebook dan blog-blog mereka. Sampaikanlah pada mereka agar menahan diri dari keinginan menunjukkan eksistensi diri di hadapan pria yang tidak berhak.

Jika mereka ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka cantik, cukuplah tunjukkan pada suami mereka saja. Atau orang tua dan anak-anak mereka saja. Karena Allah Maha Tahu segala sesuatu. Jika mereka membutuhkan sanjungan atas kecantikan yang telah dianugerahkan Allah pada mereka, biarlah Allah saja yang menyanjungnya, dengan balasan berlipat-lipat ganda di hari akhirat kelak.

Dan jika mereka ingin kecantikan mereka dikagumi, biarkanlah suami mereka saja yang mengagumi, lalu memberikannya sejuta hadiah cinta yang tidak akan pernah ada bandingnya…

Sementara kami, kaum pria yang tidak atau belum berhak atas itu semua, biarlah asyik masyuk tenggelam dalam do’a, agar dianugerahi istri yang cantik dan shalehah, ibu yang baik dan bersahaja, guru yang taat dan menjaga martabatnya…

Agar Allah mengumpulkan kita kelak di surgaNya. Meraih ridho dan ampunanNya serta dihindarkan dari adzab neraka…

hati orang khusu`


orang yang khusu’ adalah :
1/ Orang yang menyakini bahwa dia cepat atau lambat akan meninggalkan dunia yang fana’ ini dan akan menemui Robb-nya untuk mendapatkan balasan dari perbuatannya selama hidup di dunia
2/ Orang yang menyakini bahwa kematian akan menjemputnya setiap saat, sehingga dia selalu mempersiapkan bekal untuknya, yaitu menjalankan segala perintah Allah swt dan menjauhi segala larangan-Nya.
Bagaimana caranya supaya hati bisa khusu’? Di sana ada beberapa amalan yang bisa mendatangkan kekhusu’an dalam hati, diantaranya adalah :
1/ Menerima perintah Allah dan Rosul-Nya dengan rela dan pasrah tanpa ragu-ragu, dan tidak menolaknya hanya karena tidak masuk akal kita.
2/ Berusaha untuk selalu ikhlas dalam setiap amal perbuatan,
3/ Selalu muhasabah ( intropeksi diri ) dan mencari kekurangan yang ada pada dirinya.
4/ Menjauhi sifat sombong, takabbur, riya’ da sum’ah.
5/ Selalu merasa takut terhadap amal perbuatannya apakah diterima oleh Allah atau ditolaknya.
6/ Selalu mengingat nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepadanya selama hidup ini.
7/ Selalu meminta hidayat dari Allah swt dalam setiap gerak-geriknya.
8/ Selalu merenungi arti dan makna serta rahasia dibalik Asmaul Husna ( Nama-nama Allah yang indah)
9/ Selalu mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu semua ilmu yang bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt .
10/ Selalu mengingat kematian, adzab kubur, hari kebangkitan, syurga dan neraka.
11/ Selalu bersimpuh dihadapan Allah untuk berdo’a dan memohon pertolongan dari-Nya

adapun khusu’ ada beberapa kuncinya ja, diantaranya adalah :
1/ Mengetahui pentingnya sholat dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.
2/ Mempersiapkan diri sebelum sholat, dengan mensucikan diri dari hadast dan najis serta memakai pakaian yang pantas.
3/ Selalu memperhatikan adab- adab sholat secara lahir, seperti tuma’ninah dalam setiap gerakan sholat.
4/ Melakukan sholat dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha Allah saja.
5/Menjauhi segala sesuatu yang akan mengganggu konsentrasi sholat.
6/Mengetahui dan merenungi bacaan-bacaanyang terdapat di dalam sholat.

anda-tanda khusu’yang terdapat dalam diri seseorang adalah sebagai berikut :
1/ Cinta terhadap sholat dan hatinya selalu tertambat padanya.
2/ Segera mengerjakan sholat jika sudah datang waktunya, dan terasa sangat ringan di dalam mengerjakannya.
3/ Selalu menghadirkan hatinya ketika membaca Al Qur’an, berdzikir, dan berdo’a.
4/ Selalu bersyukur terhadap nkmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya, walaupun terlihat dimata manusia nikmat itu hanya sedikit. Dan dalam satu waktu dia sangat berhati-hati ketika mendapatkan nikmat, karena khawatir kalau hal itu hanya ujian dari Allah, akibat dosa-dosanya .
5/ Selalu bersabar ketika mendapatkan musibah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah swt saja.
6/Selalu merenungi fenomena yang terjadi disekitarnya, seperti pergantian malam dan siang, keajaiban makhluq-makhluq Allah baik yang ada di darat, di lautan,maupun yang berada di angkasa. Begitu juga dia selalu merenungi kehancuran bangsa-bangsa terdahulu maupun yang sekarang akibat bermaksiat kepada Allah swt.
7/ Jika disebut nama Allah swt,maka tergetar hatinya dan sering menangis karena takut kepada Allah swt.

Khusu’ akan menyebabkan seseorang dekat dengan Allah swt, sehingga hatinya selalu dipenuhi dengan cahaya keimanan. Dengan khusu’ tersebut, dia bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah baik yang terdapat dalam Al Qur’an maupun yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal khusu’ tersebut, dia mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekitarnya.

Khusu’ yang terdapat dalam hati akan menyebabkan bertambahnya iman seseorang, atau paling tidak akan menjaga stabilitas keimanan seseorang. Dengan khusu’ tersebut, seseorang akan merasakan hatinya tetap hidup, segar dan tenang, karena ia selalu dekat dengan Allah. Dengan khusu’ seseorang akan mampu menepis syubhat dan syahwat yang akan selalu mengganggu hatinya. Oleh karena itu Allah memerintahkan kaum muslimin untuk selalu menambah keimanannya setiap hari dan mengecam orang-orang yang tidak khusu’ hatinya untuk menerima kebenaran dalam Al Qur’an

Khusu’ dalam hati akan mampu membentengi hati dari penyakit ‘ujub ( merasa paling hebat), riya’ dan sum’ah.

Dengan khusu’ tersebut, seseorang akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.

Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah ( khusu’) ” ( QS Al Hajj : 34 )

Konsep Kecantikan


Ada suatu contoh kasus pada fase sebelum nazhor (melihat calon wanita yang akan dipinang), kadang muncul pertanyaan “akhwatnya cantik atau tidak?”, seorang ikhwan ketika dalam proses ta’aruf untuk mencari pasangan hidup kadang memang menentukan syarat kedua setelah mengetahui bahwa akidah sang akhwat adalah akidah yang lurus, dan secara teori memang akidah yang lurus akan berdampak pada akhlak yang baik pada diri seseorang, dalam fase pemikiran ini setelah syarat pertama calon istri yang diharapkannya yakni syarat ta’at beragama, maka seorang ikhwan memang sah-sah saja dan merupakan hak ikhwan yang bersangkutan untuk “memilih” bahwa calon pendamping yang akan dia nikahi adalah seorang wanita yang cantik... pada tahapan ini sebuah pemahaman “kecantikan” seorang akhwat menjadi sebuah hal yang nisbi (relatif)...

Perlu kita ulang kembali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kriteria dalam memilih calon istri dalam sabda beliau :

“Wanita dinikahi karena empat perkara : Karena hartanya, kecantikannya, kedudukannya, dan agamanya. Pilihlah yang taat agamanya (kalau tidak) niscaya engkau akan merugi.” [HR. Al-Bukhari (5090), Muslim (1466)]

Dari hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa secara umum pada manusia wanita itu dinikahi karena empat perkara yang ada dalam dirinya, atau paling tidak salah satu dari empat perkara itu ada dalam dirinya, dan perkara terpenting yang menjadi jaminan bahwa keluarga akan menjadi bahagia, sakinah mawaddah warrohmah (SAMARA), adalah jika seorang laki-laki menitik beratkan pada perkara ke empat! Yakni pada ketaatan wanita itu pada syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka kehendak ikhwan untuk menentukan syarat bahwa istrinya harus “cantik” setelah mengetahui kebagusan agamanya adalah hal yang lumrah dan seyogyanya mampu disikapi secara bijak agar tidak memunculkan masalah dalam proses ta’aruf, Namun kami nasihatkan kepada ikhwan (termasuk pihak ikhwan) agar berlaku bijak juga dalam menentukan syarat kedua ini agar tidak melukai “perasaan” dari akhwat atau perantara dari pihak akhwat didalam menetapkan syarat “cantik” pada calon istri yang akan di-nazhor.

Hendaknya dalam menentukan syarat yang kedua ini adalah suatu hal yang menjadi “rahasia” ikhwan atau pihak perantara dari ikhwan dan tidak disampaikan kepada akhwat atau pihak perantara dari akhwat, karena hal ini akan menimbulkan syubhat dan prasangka bahwa si ikhwan adalah orang yang lebih mementingkan fisikisme seorang akhwat daripada agamanya, padahal mungkin tidak demikian dalam hati si ikhwan.

Kemudian agar tidak muncul rasa kecewa dari pihak akhwat dan perantaranya sebelum proses nazhor karena dikhawatirkan akan mengganggu hubungan silaturrahmi dan ukhuwah pada kedua belah pihak hanya karena masalah ini, alangkah bijaknya bila ikhwan dalam menentukan syarat kedua ini hanya menjadi sebuah rahasia bersama dengan pihak perantara dari ikhwan (kakak, saudara atau seseorang yang bisa dipercaya dan diharapkan perantara juga seorang akhwat) untuk “melihatkan” dan menggambarkan tentang kecantikan si akhwat tanpa diketahui oleh pihak akhwat, diharapkan pihak perantara dari ikhwan tidak menanyakan tentang kecantikan si akhwat langsung kepada perantara si akhwat, karena hal ini bisa melukai hati.

Kecantikan terkadang menjadi tolak ukur yang nisbi (relatif) dan tergantung pada akhlak masing-masing ikhwan, terkadang ikhwan (yang dulunya mungkin) pernah melihat wanita-wanita cantik dari kalangan artis di televisi dan majalah atau foto-foto yang dipajang di FB, otomatis memiliki standar “kecantikan” tersendiri yang lebih tinggi daripada ikhwan yang jarang melihat wajah wanita dan menundukkan pandangannya. Mereka yang jarang melihat wajah wanita yang bukan mahramnya akan memiliki standar lebih kecil dalam menentukan sebuah kecantikan wajah, maka kembali lagi hal ini kembali pada akhlak pribadi sang ikhwan.

Kemudian juga seorang ikhwan secara pribadi memiliki syarat-syarat tersendiri dalam hal kecantikan ini, tergantung dari lingkungan dan pola pikir si ikhwan. Kadang karena pengaruh lingkungan dan tempat tinggal, ada perbedaan dalam penentuan kriteria kecantikan, seorang ikhwan yang tinggal di desa kadang memiliki standar kriteria kecantikan yang lebih kecil daripada ikhwan yang tinggal di kota besar. Maka bagaimanakah konsep kecantikan diharapkan untuk membuat rumah tangga menjadi bahagia sehingga harus menjadi syarat kedua setelah bagusnya agama seorang akhwat?

INILAH KECANTIKAN ITU...

Kalau mau kita sedikit memperhatikan betapa sekarang toko-toko kosmetik banyak berjubel dipenuhi oleh kaum wanita, dan sudah menjadi suatu tolak ukur umum bahwa mereka yang cantik adalah yang berkulit putih, berhidung mancung, berwajah mulus tanpa jerawat, dan memiliki postur yang tinggi serta ramping, sehingga tak jarang banyak ratusan jenis obat-obat dan krim pemutih yang beredar di pasaran, kemudian bagi yang tidak mancung hidungnya dioperasi atau disuntik silikon agar menjadi mancung dab nayak lagi wanita yang rela merubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk sekedar tampil cantik.

Namun kecantikan seperti apa yang akan mampu membuat pernikahan seseorang menjadi indah, kecantikan akhwat seperti apa yang seharusnya dijadikan patokan untuk menjadi pilihan bagi seorang ikhwan sebagai istrinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia adalah wanita yang menyenangkan (suami) ketika melihatnya...” [HR An-Nasa-i (VI/68) dan Ahmad (7373). Hadits ini shahih]

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dia adalah wanita yang menyenangkan (suami) ketika melihatnya...” bermakna bahwa wanita tersebut akan membuat hati suami berbunga-bunga saat melihatnya, akan membuat pandangan mata menjadi sejuk bila melihatnya, dan mampu membuat suami selalu merasa bahagia berada disampingnya.

Wanita yang cantik adalah wanita yang memahami hak-hak sang suami dan mampu menunaikannya dengan baik walaupun kadang hal itu memberatkannya, namun keikhlasan seorang istri untuk bisa tampil menyenangkan di hadapan suami membuat istri berusaha semampu yang dia bisa dan bertawakal kepada Allah dalam membahagiakan suaminya.

Ada sebuah konsep yang ditawarkan seorang akhwat bahwa kecantikan adalah akhwat yang memahami syari’at, dan bagi yang tidak memahami syari’at maka dia tidak cantik. Konsep ini memiliki kebenaran di satu sisi, namun ada beberapa kekurangan yang perlu diperjelas lagi dan diperbaiki dalam pelaksanaannya. Seseorang akhwat yang memahami syari’at dengan baik namun tidak pandai merawat dirinya untuk tampil menyenangkan di hadapan suami bisa menjadi “hilang kecantikannya” dimata suaminya.

Pemahaman yang ditekankan dalam pembahasan ini adalah konsep “MENYENANGKAN SAAT DILIHAT SUAMI”, seorang calon istri atau seorang istri seharusnya memahami dengan benar bagaimana untuk memanjakan mata suaminya dalam rangka membangun keluarga SAMARA. Dan hal tersebut bisa diwujudkan dalam beberapa hal di bawah ini :

PERTAMA : Seorang wanita seharusnya mampu melapangkan hati saat melihat sesuatu yang tidak mengenakkan pandangan matanya pada diri suaminya dan tetap tersenyum padanya, mungkin suatu hari suami pulang kerja dengan kondisi marah atau tertekan karena pekerjaannya, maka hendaknya istri bisa mengambil waktu yang tepat dalam bersikap, tidak boleh seorang istri langsung mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat suaminya semakin depresi. Hendaknya sang istri menyambut kedatangan suami dengan senyum terindah, melayani kebutuhan makan dan minumnya dengan baik dan menunggu saat yang tepat untuk menjadi “dewi penolong” walaupun hanya sebagai teman berbagi.

Ketika sang suami sudah menunaikan hajatnya (makan-minum-istirahat-sholat jama’ah), maka di sore hari saat anak-anak (bagi yang memiliki anak) sedang belajar atau bermain, istri bisa tampil dengan kelembutannya dan menanyakan masalah suaminya serta menghiburnya untuk bersabar dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Istri bisa memberikan saran-saran yang sekiranya bisa meringankan beban pikiran suami agar suami bisa tenang dan ceria kembali seperti biasanya. Yang menjadi catatan adalah jangan sampai senyum indah itu hilang dari bibirmu meski suamimu sedang cemberut. Secantik apapun wanita kalau suka punya kebiasaan cemberut akan membuat suaminya “sebel” melihatnya, apalagi di saat dia punya masalah dalam pekerjaannya, sehingga kadang gara-gara cemberut bisa berujung pada suatu perceraian.

KEDUA : Seorang wanita harusnya mampu tampil cantik walaupun tidak dengan kosmetik yang mahal dan pakaian yang berkelas. Selain belajar ilmu agama seorang wanita juga dituntut untuk belajar dan memahami bagaimana “selera” yang diinginkan sang suami, jika suami senang melihat istrinya tampil cantik dan menggairahkan ketika berada di kamarnya, maka jangan segan-segan untuk membeli pakaian yang mampu membangkitkan hasrat suami kepadanya saat ia memakainya di hadapan suaminya. Tidak perlu memiliki wajah seperti artis untuk bisa tampil bak bidadari di hadapan suami.

Selain itu jangan sungkan-sungkan untuk berkonsultasi kepada suami tentang aroma parfum yang dia sukai, jangan hanya mementingkan selera sendiri saat menggunakan wewangian di rumah padahal belum tentu sang suami menyukainya, hal demikian hanya akan membuat suami menjauh saat berada di dekat istri.

KETIGA : Hendaknya seorang istri mampu menutupi kekurangannya dan mempergunakan kelebihannya untuk menyenangkan suami. Jangan pernah berhenti pada satu titik untuk memperbaiki diri dan selalu mencoba variasi-variasi baru dalam membuat suami bahagia. Jika seorang istri memiliki bau badan yang tidak nyaman maka berusahalah untuk menghilangkannya dengan meminum jamu atau menggunakan wewangian yang disukai suami, jika seorang istri tidak mampu membuat masakan yang enak maka jangan pernah bosan dan lelah dalam belajar memasak menu-menu baru yang merupakan kegemaran suami, memanjakan suami melalui lidahnya akan semakin menumbuhkan rasa cinta dan kekaguman suami pada istri.

Dalam mempergunakan kelebihan untuk menarik perhatian suami, istri bisa menggunakan kelembutan dan gemulainya, tidak perlu sungkan untuk bermanja rayu kepada suami di saat sedang berdua, saling menyuapi saat makan juga merupakan perekat cinta dan menumbuhkan bunga-bunga kasih dalam hubungan suami istri, bahkan hal ini termasuk sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “…Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan infaq yang hanya mengharapkan pahala dari Allah kecuali engkau akan diberi pahala atas perbuatanmu tersebut, hingga sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu…” [HR. Al-Bukhari (1295), Muslim (1628), dari Sa’ad radhiyallahu ‘anhu]

KEEMPAT : Hendaknya seorang istri memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada suami dan anak-anaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta adalah wanita Quraisy yang paling shalihah, ia adalah wanita yang penuh kasih sayang kepada anak di waktu kecil ...” [HR. Al-Bukhari (5082), Muslim (2527)]

Hendaknya seorang istri bisa merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang di hadapan atau dibelakang suami, karena hal itu akan memunculkan kekaguman pada diri suami dan menyenangkan bila dipandang, bukan seorang wanita yang suka berteriak-teriak dan memukul anak-anaknya.

KELIMA : Seorang istri akan menyenangkan suaminya bila istri ringan untuk memuji suami dan menyebut-nyebut kebaikannya, jangan pernah merasa berat menyebutkan budi baik suami kepadanya dan memuji penampilan serta perangainya.

KEENAM : Seorang istri juga harus memiliki tutur kata yang santun dan tidak suka mencela, tidak akan menyenangkan dilihat jika seorang istri selalu berkata-kata yang kotor dan sumpah serapah saat dia sedang marah atau tidak suka terhadap sesuatu.

KETUJUH : Memiliki tabiat penyabar pada kekurangan dan bersyukur jika ada rizki. Akan menyenangkan melihat seorang istri yang selalu sabar pada saat kekurangan, dia tidak mengeluh dan mencela, akan menyenangkan melihat seorang istri yang selalu bersyukur, mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mendapatkan rizki, baik hadiah dari saudara atau pemberian dari suami.

KEDELAPAN : Istri akan menyenangkan dilihat saat dia taat kepada suaminya dalam hal yang ma’ruf, ketika suaminya memerlukannya dalam sesuatu hal maka istri tampil memenuhi keinginan suami dengan ikhlas dan ceria, sebagai contoh ketika suami menginginkan makan atau minum sesuatu maka istri tanpa diminta kedua kali langsung sigap memenuhi keinginan suaminya untuk menyenangkan hatinya dan sebagai pelaksanaan kewajiban seorang istri.

Demikianlah wahai saudariku para akhwati fillah, juga kepada para istri kaum mukminin sebuah nilai kecantikan yang hakiki, tak akan lekang dengan berlalunya waktu, walaupun kulit telah kendur, rambut telah beruban, dan mata tak lagi mampu melihat dengan baik, kecantikan hati tak akan pudar dari seorang wanita, selain pemahamannya kepada ilmu syar’i yang baik seorang wanita dituntut juga mampu menyejukkan pandangan suami di rumahnya.

Maka kami tanyakan kembali kepada ikhwan yang akan mencari seorang istri yang shalihah, kecantikan seperti apa yang engkau harapkan dari seorang istri? Bisa jadi kadang wajah seorang akhwat kurang sesuai dengan harapanmu, namun kelak dia akan mampu menyenangkan pandangan matamu dalam rumah tangga yang engkau bina.

Seorang suami bisa jadi enggan memandang istrinya karena ketidak mampuan istri dalam menyenangkan mata suaminya walaupun pemahaman agamanya dan ibadahnya bagus, maka kami nasihatkan kepada pasangan yang akan menikah atau yang sudah menikah terutama bagi para akhwat dan istri yang shalihah, agar mempertimbangkan kembali ketika tampil di hadapan suaminya, sudahkah mereka menyenangkan hati dan mata suami?

Wallahu a’lam bish showab