
Orangtua menurut ajaran islam, adalah manusia-manusia pertama yang harus diakrabi dan dimuliakan oleh seorang muslim. Sebab dengan perantaraan merekalah Allah menghadirkan manusia ke muka bumi. Oleh karena itu, di dalam semua kitab suci, perintah berbakti kepada orangtua tidak pernah berbeda dalam satu kesimpulan : mengabdi kepada mereka adalah mulia, durhaka kepada mereka adalah hina.
Begitu pula Al-Qur'an. Orangtua seolah ditempatkan kedudukannya setingkat di bawah Tuhan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Keridhaan Allah terdapat dalam keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orangtua."
Sehingga dalam Al-Quran ada tiga pasangan perintah yang tidak pernah terpisah di dalam ayat yang memuatnya. Yakni di samping perintah beriman selalu berdampingan dengan beramal salih, perintah mendirikan shalat berjejeran dengan perintah membayarkan zakat, juga perintah berbakti kepada Allah senantiasa disertai perintah mengabdi kepada orangtua.
Bahkan oleh Al-Quran banyak digambarkan bagaimana seharusnya sikap anak menghadapi orangtuanya berhubung sangat beratnya kesulitan yang dialami pada waktu mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan hingga mendidik dan mendewasakan.
Dalam surat Luqman ayat 14 dikatakan:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
Tatkala Nabi SAW, sedang berkumpul dengan para sahabat, datanglah seseorang memanggil beliau untuk menjenguk sahabat Abdullah bin Salam yang sedang sakit payah dan nampaknya hampir sampai ajalnya.
Bersama dengan para sahabat, Nabi lalu datang kepada Abdullah. Di rumahnya Abdullah sudah mulai tercekik-cekik menjelang tarikan nafas yang penghabisan. Nabi mengajarinya dengan mengucapkan kalimah syahadat. Namun hingga tiga kali, Abdullah seperti mendadak bisu.
Nabi lantas bersabda kepda Bilal, "Sahabatku, tanyakan kepada istri Abdullah, apa yang dilakukannya dalam waktu sehatnya, dan apa saja usahanya."
Kepada Bilal istri Abdullah menjawab, "Sepanjang dia menikahi saya, tidak pernah saya lihat sehari pun ia tidak bersedekah dengan apa yang ia punya. Hanya saja ibunya tidak ridha kepadanya."
Maka Nabi segera memerintahkan Bilal untuk mendatangi ibu Abdullah bin Salam di kampungnya.
Berkatalah Bilal, "Ibu, maukah ibu mengabulkan permintaan Rasulullah?"
"Apakah permintaan beliau?" tanya perempuan tua itu.
"Supaya ibu berbaik-baik dengan anak ibu, Abdullah. Sebab ia sedang berada pada sakaratul maut."
"Oh, tidak. Demi hak Rasullah atas diriku, tak kuhalalkan kesalahan Abdullah kepadaku. Di dunia maupun di akhirat. Lantaran dia telah menyakiti aku, sakit sekali."
dengan sedih Bilal melaporkan hal itu kepada Nabi SAW. Beliau pun segera menyuruh Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mengulangi permintaannya.
"Ibu diundang untuk bertemu Rasullah," Ujar mereka sudah bertemu muka dengan ibu Abdullah di kampung.
"Ada urusan apa?" tanya perempuan tersebut keheranan.
"Soal itu boleh ditanyakan langsung kepada beliau."
Maka setelah berhadap-hadapan, Rasullah berkata:
"Wahai ibu. Perhatikanlah anak ibu, betapa beratnya ia tersiksa saat ini."
Sesudah memandangi anaknya sejenak, wanita tua itu berkata:
"Hai, anakku. Atas nama hakku yang kau rampas. Tak kuhalalkan kesalahanmu di dunia maupun di akhirat."
Nabi terkejut:
"Hai ibu. Takutlah kepada Allah Azza wa jalla. Dan halalkanlah kesalahannya."
Ibu tersebut menjawab, "Apakah sehubungan dengan hakmu sebagai Rasul atas diriku sehingga aku harus mengikhlaskan dosanya, padahal ia menyakiti aku, bahkan mengusirku dari rumahnya demi kepentingan istrinya?"
Rasulullah menjawab:
"Tidak. Kebalikkannya. Bahkan merupakan hakmu atas diriku jika ibu berkenan mengampuni dosanya."
Tersadar oleh dalamnya makna yang terkandung dalamucapan Rasulullah itu, perempuan tersebut menggumam:
"Saksikanlah, hai Rasulullah. Oleh engkau dan oleh orang-orang bersamamu. Bahwa aku mengampuni kesalahan Abdullah saat ini juga."
Nabi pun dengan gembira menyambut jawaban ini, lantas bersabda kepada Abdullah yang bibirnya kian terkatup rapat tadinya.
"Ucapkan : Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah."
Serentak talkin tersebut disahuti Abdullah dengan mengucapkan syahadat keras-keras sebelum ia kemudian menutup mata buat tidak dibuka lagi selama-lamanya.
Dalam suratAl-Isra ayat 23 Allah menegaskan:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
Malahan, terhadap orangtua yang masih kafir pun seorang muslim tidak dibenarkan bersikap kasar, dan justru harus memuliakan mereka di dalam pergaulan dunia. Meskipun mereka dengan keras berusaha menjadikan si anak kembali kafir dan mengikuti agama mereka.
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." [Luqman : 15]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Mohon Komentarnya ya.............Sukron "