Cantik

Senin, 12 April 2010

"Cinta Dan Keyakinan"

“…tak lagi ingin mencintai dan dicintai, ku hanya ingin mencintai cinta yang menginginkan aku mencintainya tanpa bercinta...”

Cinta. Lagi lagi cinta. Ya memang, saya lagi bingung dengan cinta. Bingung dengan kata yang dibentuk oleh lima karakter ini penuh misteri. Menyimpan berbagai rahasia hidup. Cinta tak akan pernah habis dikupas, dinovelkan, diceritakan, bahkan diangkat ke layar kaca.

“Untuk apa bingung dengan cinta, toh itu sudah fitrahnya manusia. Tidak usah kau bingungkan diri dengan cinta, karenanya cinta banyak maknanya, tergantung diri kita sendiri yang memaknai, dan hampir semua orang—dimulai dari masa pubertas pertama—mengerti apa itu cinta, bahkan mulai merasakannya. Jadi, tidak perlu untuk kita sebutkan “Cinta adalah…” karena definisi cinta orang sudah pada tau semua, termasuk andakan? Kalau pun belum tanya saja sama om Google, dan dia akan menjawab dengan jujur”, itulah pertanyan dan juga jawaban yang sering melintas di pikiran saya kalo lagi bingung karena cinta.

Apa yang membingungkan diri saya tentang cinta? ya itu tadi, jalan pikiran dengan tanya sendiri, jawab sendiri.

Ada orang bilang, cinta itu indah, itu klo dia bahagia dengan kehidupan cintanya. Ada juga yang bilang, cinta itu menyakitkan, itu klo dia pernah sakit karena cinta. Ada lagi yang bilang, cinta itu misterius, itu klo dia tidak menyadari dia lagi jatuh cinta. Mungkin, ini kali yaa… kalau saya lagi falling in love. Ah… payah.

Cinta kerjaan hati, bukan logika. Hati adalah raja manusia. Hati bisa ditikam dengan nafsu, tapi raja juga punya penasehat untuk memutuskan. Penasehat hati itu pikiran. Pikiran itu kadang-kadang yang membuat saya kurang yakin kalau saya lagi falling in love.

Ada kata bijak yang sering kita dengar—dan ke-bijak-an kata kata ini entah masih bisa disebut kata bijak yang dilontarkan oleh orang bijak, karena sudah sering terdengar, ditulis, bahkan disebut-sebut di saat seseorang lagi curhat sama sabahatnya di kala dia lagi putus cinta, jatuh cinta—tapi ini dari sebuah buku, “ Terkadang mencintai atau menyukai seseorang tak hanya butuh keberanian untuk mengungkapkan tapi juga butuh ketakutan, paling tidak kita punya pijakan untuk berpikir”, Saya berani untuk mengungkapkan cinta saya. Tapi saya lebih takut pada cinta saya. Apakah cinta saya kali ini cinta yang tulus, atau masih dalam kawasan ‘cinta monyet’?

Ketakutan itu karena belum ada keyakinan, tapi jangan memaksakan keyakinan. Keyakinan hadir dari hati yang bersih. Percayalah, cinta akan datang pada setiap manusia kalau sudah saatnya. Dan cinta itu akan menjadi indah, kalau ada keyakinan mintalah cinta kepada yang memberi keyakinan, pasti semuanya akan mudah. Mungkin inilah penyebabnya, kenapa saya takut akan cinta saya. Yang pasti–dan itu yang sedang terjadi dengan diri saya–saya ragu akan keyakinan saya dan pemberi keyakinan. [dp]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Mohon Komentarnya ya.............Sukron "