"Hal orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Al Hasyr, 59 :18).
Bila dipahami dan dihayati, makna ayat di atas mengantarkan seseorang untuk mau melakukan Muhasabah (upaya introspeksi diri) terhadap amal yang telah dilakukannya, apakah amal yang telah dilakukannya banyak bernilai ibadah atau tidak, lebih banyak amal yang "shaleh" ataukah yang "salah"? Betapa pentingnya upaya introspeksi diri ini sampai suatu saat Sayyidina Umar bin Khattab r.a. pernah berkata, "hisablah dirimu sebelum datang suatu masa Allah yang akan menghisabmu".
Ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan yang sangat jauh dan penuh rintangan, di tengah perjalanan musafir tersebut berhenti sejenak di bawah pohon yang rindang untuk bertanya kepada dirinya, berapa jauhkah perjalanan yang sudah ditempuhnya dan berapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuhnya ? Yang menjadi permasalahan, bukan hanya masalah jarak dan waktu yang telah dan akan ditempuh, akan tetapi, hal yang paling penting yang harus ditanyakan musafir kepada dirinya adalah, apakah selama ini ia telah menempuh jalan yang benar? Atau justru telah menempuh jalan yang salah ? Sehingga ia tidak akan pernah sampai pada titik tujuan yang menjadi cita-citanya.
Seperti halnya musafir di atas, momen pergantian tahun sangatlah tepat bila dimanfaatkan untuk bermuhasabah, mengevaluasi kecocokan antara jalan yang telah ditempuh dengan cita-cita tertinggi perjalanan hidup kita, yaitu menggapai kebahagiaan hidup abadi di akhirat nanti dalam ridho Allah.
Allah SWT telah mengingatkan manusia lewat firman-Nya: "Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan" (Al Qashash, 28 : 77). Ayat ini memberikan arah kehidupan yang sangat jelas bagi manusia, bahwa negeri akhiratlah yang senantiasa menjadi tujuan hidup yakni menggapai kehidupan bahagia di Syurga dalam ridha Allah SWT.
Perjalanan menuju ke syurga Allah adalah dengan meniti shirathal mustaqiim, yakni jalan yang menghubungkan antara alam dunia dan alam akhirat. Keberadaan seseorang dalam shirathal mustaqiim hanya mungkin diraih oleh mereka yang berjuang secara optimal untuk menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidupnya dan tentu saja dengan selalu berdoa paling tidak setiap hari 17 kali dalam shalat fardlu agar Allah SWT Derkenan menganugerahkan hidayah-Nya agar bisa bertahan istiqomah di jalan-Nya.
Kematian manusia meninggalkan alam dunia merupakan awal dari kehidupan yang sesungguhnya, seperti yang dikatakan Rasulullah Saw dalam sebuah sabdanya: "Manusia saat ini sedang tidur, termasuk Aku. Ketika mereka meninggal dunia, barulah mereka bangun dari tidurnya". Kehidupan di dunia ini ibarat mimpi saat tidur, karena nanusia tidak dapat melihat alam akhirat dengan nyata, sama seperti orang yang sedang tidur karena yang dilihatnya sesuatu yang tidak nyata (bermimpi). Ketika manusia meninggal dunia, barulah ia dapat melihat alam akhirat dengan nyata, sebagaimana seseorang yang terbangun dari mimpinya lalu nenghadapi kehidupan yang nyata.
Manakala seseorang hingga akhir hidupnya dapat mempertahankan diri di dalam shirathal mustaqiim, maka ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah, seperti yang tersurat dalam surat Ibrahim ayat 27, Allah SWT berfirman: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
Oleh sebab itu, hendaknya setiap mu'min senantiasa berupaya untuk menjaga diri agar tidak keluar dari shiraathal mustaqiim ini. Sebab sekecil apa pun melenceng dari garis tersebut, maka Iblis memiliki peluang untuk terus menariknya hingga melenceng lebih jauh lagi. Hal inilah yang selalu diingatkan oleh Rasulullah Saw, bahwa ketika seseorang keluar dari garis tersebut untuk pertama kalinya, lalu ia berbuat maksiat, ia akan merasa sangat bersalah, menangis, dan bertaubat karena menyesali perbuatannya. Namun, ketika maksiat tersebut dilakukan untuk kedua kalinya, rasa bersalah, tangisan dan penyesalannya akan berkurang. Apabila ia melakukan untuk yang ketiga kalinya, maka sudah tidak ada lagi rasa bersalah dan penyesalan, selanjutnya, ia akan menikmati maksiat itu. Akibatnya, ia akan semakin jauh dari tujuan hidupnya.
Manusia yang selamat dalam pandangan Allah adalah seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang hidup di sekitar pohon itu dengan seizin Allah (Q.S. Ibrahim, 14 : 24-25). Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan akar tersebut adalah kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah (aqidah). Akar yang kokoh menyebabkan sebatang pohon akan tumbuh dengan baik. Cabang yang menjulang ke langit melambangkan hubungan yang baik dengan Allah SWT (hablumminallah). Selanjutnya, buah yang dapat dinikmati menyimbolkan hubungan yang baik dengan sesama manusia sehingga orang-orang dapat menikmati buah dari keshalehannya (hablumminannas).
Seseorang akan senantiasa berada pada shiraathal mustaqiim bila memiliki akar yang kuat, seperti sabda Rasulullah Saw, "Barangsiapa yang sampai akhir hayatnya tetap berada dalam prinsip laa ilaaha illallah, ia pasti masuk Syurga."Artinya, seseorang akan dijamin masuk Syurga bila sampai akhir hayatnya, ia memegang teguh kalimat tauhid laa ilaaha illallah, Kalimat tauhid ini ibarat tiket seseorang untuk masuk syurga. Adapun apakah seseorang akan mampir atau tidak di neraka ditentukan oleh berat ringannya antara amal dan dosanya. Jika amal shalehnya lebih berat dibanding dosanya maka ia akan langsung masuk syurga. Namun bila sebaliknya, maka ia harus mampir dulu di neraka (QS. Al Qaari'ah). Sebaliknya, seseorang yang hingga akhir hayatnya tidak pernah berpegang kepada kalimat tauhid, ia akan kekal di neraka. Na'udzu billah min dzaalik!
Wallahu i a'lam hish-shawah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Mohon Komentarnya ya.............Sukron "